Demokrasi yang di anut
oleh Negara Indonesia dirasa cukup pas sebagai system pemerintahan Negara ini
karna system demokrasi sendiri menempatkan rakyat sebagai pemilik kekuasaan
tertinggi di negeri ini. Kendati belum lama ini kita menganut paham demokrasi secara
langsung dengan pemilihan umum tapi dapat dilihat terdapat banyak virus virus
yang menggrogoti hakikat dari demokrasi itu sendiri sehingga penerapan
demokrasi yang harusnya bisa mengimplementasikan suara aspirasi rakyat secara
utuh malah menjadi object ujuk gigi para parpol.
Narsisme Politik
Narsisme Politik sendiri
dapat kita lihat dengan strategi politik yg sangat dibentuk oleh sifat
popularitas. Tokoh tokoh beserta para kader parpol pun ketimbang berlomba lomba
memiliki gagasan, pengorbanan, ide inovatif mereka lebh tertarik kepada sesuatu
yang bersifat sensasional misalnya iklan di media, baliho yang betebaran
dijalan itu semua merupakan bentuk dari narsisme politik
Sifat narsis para parpol akan semakin terlihat manakala kita menyaksikan pemimpin partai politik melirik para artis yang memiliki popularitas dimasyarakat sebagai kader atau sebagainya.
Sifat narsis para parpol akan semakin terlihat manakala kita menyaksikan pemimpin partai politik melirik para artis yang memiliki popularitas dimasyarakat sebagai kader atau sebagainya.
Politik pencitraan
Politik pencitraan ini muncul akibat politik Indonesia yang
tidak lagi bisa dikelola melalui cara-cara menakutkan gaya Orde Baru (represi,
intimidasi, kekerasan fisik, tuduhan subversif), tetapi harus dikelola dengan
cara-cara yang “merangkul” rakyat. Lahirlah politik pencitraan. Namanya juga
citra, jadi ya sifatnya pasti permukaan.
Apakah dalam pencitraan itu sungguh-sungguh atau cuma
tipu-tipu, nah itu bisa dilihat dari latar belakang sosial politisi tersebut.
Kalau yang berasal dari kelas bawah (atau yang tadinya miskin), biasanya
melakukan politik pencitraan itu dilakukannya dengan tidak canggung, luwes, dan
spontan, karena cenderung pernah mengalami semua kesusahan itu. Tapi kalau yang
berasal dari kelas atas (atau yang dari kecilnya sudah kaya) maka biasanya
lucu, tidak spontan, dan artifisial
Pencitraan diri seorang figur yang sedang bertarung dalam
kontestasi politik berdampak besar bagi elektabilitas mereka. Sosok yang
populer yang sedang berkuasa bisa terjungkal jika salah sedikit saja dalam
mencitrakan dirinya.
Politik Transaksional
Dalam praktek politik
praktis, hampir pasti ada politik transaksional. Karena pada dasarnya politik
adalah kompromi, pembagian kekuasaan. dalam politik kenegaraan juga ada istilah
pembagian kekuasaan. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga diseluruh dunia.
Karena memang politik adalah proses pembagian kekuasaan. Di mana seseorang atau
sekelompok orang yang meraih kekuasaan, akan berbagi kekuasaan dengan ornag
lain.biasanya pada kasus ini bisa dilihat dari partai koalisi yang berbagi
bangku di kursi kementrian
Intimidasi Suara
Itu sendiri berarti
ialah dimaksudkan adalah perilaku
"yang akan menyebabkan seseorang yang pada umumnya akan merasakan
"takut cedera" atau berbahaya. Ini tidak diperlukan untuk membuktikan
bahwa perilaku tersebut sehingga menimbulkan kekerasan sebagai teror atau korban
yang sebenarnya takut. Untuk contoh bisa kita lihat pada zaman rezim Suharto para
PNS diwajibkan untuk memilih GOLKAR
Banalitas Politik
Sebuah kejahatan politik
dimana Piliang menjelaskan bahwa, krisis simbolik adalah sebuah kondisi
ketidakmampuan simbol yang ada untuk menciptakan citra atau makna positif
tertentu, misalnya citra ke Indonesia yang damai, beradab, toleransi, dll.
Citra yang hari ini berkembang justru mengarah pada sebuah banalitas.
Banalitas dalam hal ini
adalah kondisi pendangkalan yang di dalamnya berbagai hal yang rameh-tameh,
rendah, atau tidak esensial (misalnya citra) justru menjadi bagian esensial
dari sebuah wacana yang berkembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar